Contact Via YM
Facebook
Contact Us

Kantor Card Agency Palembang :

Jl. Cut Nyak Dien No.16 Bukit Besar Palembang

Telf: 0711-9178163 atau 0711-7040110

Kantor Perwakilan :

Sumbagsel, Jl. Basuki Rahmat No. 12A RT.23/RW.09 Simpang Polda, Telp/Fax : 0711-321222
Palembang 30126

 

Kantor Pusat :

Surapati Core Gedung J7
Jl PHH. Mustafa no.39 Bandung
Telf:
022-87241426 Fax: 022-87241427



Data Bank dbs-sumsel.com


Logo Bank BCA

Bank BCA
KCP Dempo Palembang
a/n YULHENDRAWAN
No. Rek. : 1140124075 




Bank Mandiri
Cabang Rajawali Palembang
a/n YULHENDRAWAN
No.Rek. : 113-00-0509346-7




Bank BNI
a/n DERICHA RISANTY
No.Rek. : 0070325652



CONTACT US

Call/SMS


Indosat
0856 6955 6537
0857 690 55559


Telkomsel

0813 7309 6437

0813 7791 3929


XL

0878 9740 6037


Esia / Flexi

0711-9178163

0711-7040110


yoel.hendrawan@dbs-sumsel.com
yoel.hendrawan@gmail.com


Alamat 1:
Jl. Serda KKO Usman Ali No.109
Rt.8 Rw.5 Sungai Buah
Palembang 30116


Alamat 2:
Jl. Cut Nyak Dien No.16
Palembang 30144


MERDEKA & GO FREEDOM!!!

Kantor Perwakilan:

Jl. KH. Noer Ali Inspeksi Kali Malang Setia Darma
Ruko Sentral Niaga Kali Mas Blok B 18B Tambun 021-33823571
Bekasi


Kanper Makassar II, Jl.Toddopuli Raya Timur No 18C Makassar. tlp/fax: 0411430240
Makassar

Mangga Dua Square Blok A-10 No. 8, Jl. Jagir Wonokromo No. 100, Telp : 031-8472314 / 031-8470545. Fax : 031-8472134
Surabaya

Jl. Letkol Hendro Suratmin No. 5A Bandar Lampung 35131 Telp : 0721-770240
Bandar Lampung

Jl. Ahmad Yani No. 23 Ruko No. 5, Purwokerto. Telp : 0281-633226, Fax : 0281-633226
Purwokerto

Ruko Tebet Mas No. 4, Jl. Tebet Raya Telp : 021-8299794, Fax : 021-8300354
Jakarta Selatan

Blok Pintu Ciereng RT. 45/RW. 15 Kel. Dangdeur Kec. Subang
Telp : 0260413147

Subang - Jawa Barat

Jl. Pemuda Komplek Ruko Pemuda Estate Blok B5
Telp : 0231-248035

Cirebon

Sumbangsel, Jl. Basuki Rahmat No. 12A RT.23/RW.09 Simpang Polda, Telp/Fax : 0711-321222
Palembang 30126

Jl. Budi Kemenangan No. 43 B-C P.Brayan, Telp : 061-6626749, Fax: 061-6619390
Medan

Jl. Puspanjolo Barat No. 25, Telp/Fax : 024-70400030 / 024-7604865
Semarang

Jl. Kapten Sumarsono Kompleks Ruko Graha Metropolitan No. 70 Helvetia,
Telp/Fax: 061-8448435 / 061-8457316
Medan

Jl. Raya Prabu Kian Santang (Perum Keroncong Permai) Blok AB No. 1-1A Jati Uwung Telp/Fax: 021-5904180 / 021-59404378
Tangerang - Banten

Jl. Jendral Sudirman No. 187 A (Sebelah Hotel Tyara Plaza), Ciamis 46215
Telp: 0265-772234

Ruko Hotel Kencana No. 3 Jl. P. Diponegoro No. 79, Rembang
Telp/Fax: 0295-6998264

Jl. H. Hasan Basry Ruko No. 47 C Kayu Tangi, Banjarmasin
Telp : 05117353030

MIM (Metro Indah Mall) Blok D-21 Jl. Soekarno Hatta, Bandung . Telp: 022-7535747

RUKO GRAHA PABELAN Jl. Proyek Bengawan Solo Blok D Pabelan. Selatan CARREFOUR Pabelan) Telp.0271-710358 Fax. 0271-7652435                                       Solo - Jawa Tengah

Jl AP. Pettarani Kompleks Ramayana Ruko Diamond No.17 Makassar
Telp/fax: 0411-420349

Ruko Graha Cibinong Blok F1 No.7 Jl. Raya Jakarta Bogor KM.43   Cibinong Bogor

Telp: 021-98293888

Bellanova Country Mall (BCM) Blok RK3 No.10 Sentul City Sentul Selatan, Bogor   Telp 0251-6851666

Opening Soon :

Banten

MERDEKA & GO FREEDOM!!!

RSS Feed
MERDEKA & GO FREEDOM!!!
image

YULHENDRAWAN

CONSULTAN MANAGER


081373096437 (simpati)
085669556537 (IM3)
087897406037 (XL)
0711-9178163 (Esia)

Kantor Perwakilan : Jl. Basuki Rahmat No.12A Rt.23 Rw.09 Simpang Polda (depan RM.Sederhana - samping Gedung Sripo), Palembang.
Produk Indonesia

 

Kartu Utama EC dan Kartu Tambahan CCI

 

Produk - Produk Non Pulsa

Nilai Website

My site is worth $3,179.4 Your website value?

Visitor

DBS WEBMATIC
Kunjungan

Cek Kartu Aktivasi

Jadwal Training DBS

Klik disini untuk melihat jadwal pertemuan DBS selengkapnya.

Statistik Perusahaan Server Pulsa
Chat box
Quotes of The Day

"Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum tersebut merubah nasibnya sendiri"


"Sukses memang sulit, tapi lebih sulit kalau tidak sukses!"

"Orang sukses bukanlah orang yang tidak pernah gagal, tetapi orang sukses adalah orang yang paling banyak gagal namun terus bangkit dari kegagalan sehingga menjadi ahli dibidangnya."

"Hadapi, hayati & nikmatilah perjuangan Anda, karena sesudah kesulitan ada banyak kemudahan."

"Orang sukses jauh dari keluh kesah, malu, minder & putus asa!"

MERDEKA & GO FREEDOM!!!

INFO DFI

Barangsiapa melakukan fitnah tuduhan haram / pencemaran nama baik terhadap PT DFI / DBS, perusahaan telah menyiapkan payung hukum yang akan menuntut ke pengadilan dengan ancaman denda 1 Milyar serta kurungan 6 tahun penjara sesuai dengan undang-undang ITE pasal 27 ayat (3) dan pasal 45 ayat (1) KUHP tentang pencemaran nama baik

LINKS
 
Partner Link

Ayah Edy - Indonesian Strong From Home

image

Senin, 12 April 2010

Pesan Kehidupan Sang Guru Besar Dunia, Dr. Arun Gandhi


------------------------------------------------------------------
Dr. Arun Gandhi adalah seorang pendidik besar dari India, cucu dari seorang Pejuang Tanpa Kekerasan, Mahatma Gandhi. Beliau juga seorang Guru Besar di salah satu Universitas di India, yang sering sekali di undang keliling dunia untuk memberikan pidato dan ceramah pencerahan di berbagai perguruan tinggi di hampir seluruh dunia.

Salah satu kebiasaan beliau dalam mengajar adalah selalu dimulai dengan menceritakan sebuah kisah inspirasi bagi para mahasiswanya; namun suatu ketika ada seorang mahasiswa yang berusaha untuk menentang kisah yang diceritakan Dr. Arun, dengan berkata bahwa cerita itu hanyalah sebuah kisah belaka, tidak nyata dan tidak akurat atau mungkin itu hanya ilusi anda saja. Untuk apa kisah semacam itu di ceritakan pada kami para intelektual dan pemikir bangsa ini. Begitu kira-kira sanggah sang mahasiswa.

Lalu kemudian Sang Guru besar tersenyum hangat pada sang mahasiswa, dan menjawab... Anakku.... sepanjang pengalamanku 30 tahun mengajar, memang selalu ada orang-orang yang selalu mengkritik, mempermasalahkan ke akuratan ceritanya, mencari sisi-sisi lemah dari kisahnya dan terus berusaha untuk menentangnya, namun ada juga sebagian lagi orang yang tidak mempermasalahkan itu semua, malainkan berusaha untuk mencari pesan moral atau hikmah apa yang tersembunyi dibalik kisah tersebut.

Dan yang menarik, lanjut sang Guru Besar sambil tersenyum hangat, orang-orang hebat dan para pemimpin besar yang sekarang saya kenal, yang dulu pernah mejadi mahasiswa saya ternyata adalah mereka yang selalu mencari hikmah dari kisah cerita yang pernah mereka dengar baik dari saya atau dari siapapun.

Anakku.... lanjut sang Guru Besar sambil tersenyum hangat..., Hidup ini adalah sebuah perjalanan cerita yang didalamnya banyak sekali terkandung pesan-pesan moral dari Tuhan, Namun hidup ini sekaligus juga pilihan bebas bagi kita semua.

Setiap orang bebas memilih.. apakah ia akan berusaha untuk mendapatkan hikmah dari sebuah kisah cerita kehidupan ataukah ia justru lebih suka untuk menguji keabsahan cerita tersebut dengan logika intelektualnya saja dan terus mengkritik dan memperdebatkannya ?

Tentu saja keputusan ini sepenuhnya berada ditangan kita anakku.... dan ketahuilah bahwa setiap hari kita akan selalu membuat keputusan-keputusan yang menentukan bagi kehidupan kita saat ini dan dimasa mendatang. Oleh karena itu sebelum kalian memilih sebuah keputusan, renungkanlah..., agar kalian memiliki kesadaran yang sempurna serta memiliki pandangan jauh kedepan tentang akibat dari sebuah keputusan, sebelum keputusan itu sendiri dibuat.

Para orang tua dan guru yang berbahagia, sepertinya benar apa yang di katakan oleh Dr. Arun, bahwa hidup ini adalah sebuah pilihan, ya pilihan untuk melihat hikmat dari sebuah kisah atau untuk mengkritisi kisah itu sendiri. Tentu saja tiap pilihan akan menuai hasil yang berbeda. Dan sekali lagi pilihan itu sepenuhnya berada di tangan kita.

Termasuk yang manakah kira-kira kita selama ini..?

Semoga pesan ini bisa membantu mengubah cara pandang kita dalam menentukan pilihan-pilihan hidup yang lebih baik.

 

 

 

Kamis, 01 April 2010

Bisakah kita mengubah negeri ini menjadi lebih baik ?


------------------------------------------------------------

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada, pernahkah kita merasa kesulitan untuk mengubah prilaku anak-anak kita yang sepertinya sudah agak-agak menyimpang dari yang kita harapkan. Atau mungkin kita juga pernah merasa kesulitan untuk mengubah prilaku pasangan kita yang selama ini selalu saja berbeda pendapat dan tidak pernah sepaham. Padahal salah satu yang menjadi prinsip dalam mendidik anak untuk bisa menjadi lebih baik, adalah kekompakan dari kita para orang tuanya.

Jika kita adalah salah satu dari orang merasa demikian; mungkin ada baiknya kita belajar dari sejarah, tetang bagaimana kita bisa mengubah orang lain melalui diri kita.

Para orang tua dan guru tercinta saya ingin mengajak anda untuk meluangkan waktu sejenak saja guna menyimak sebuah tulisan luar biasa yang tertera di atas Batu Nisan, makam seorang jenius besar dunia .....Westminster Abbey, seorang arsitek kerajaan Inggris yang telah merancang Maha Karya, Gereja Kathedral di London.

Mari kita simak bersama;

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah dunia ini agar bisa menjadi lebih baik. Lalu Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tiada pernah menjadi lebih baik.

Maka cita-cita itupun agak kupersempit, lalu ku putuskan untuk hanya mengubah negeriku sendiri. Namun tampaknya hasrat itupun tiada membawa hasil.

Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah keluargaku sendiri, yakni orang-orang yang paling dekat denganku, namun celakanya merekapun ternyata tidak mau berubah !

Dan hari ini sementara aku berbaring untuk menanti ajal, tiba-tiba saja kusadari;

Seandainya saja dulu aku berpikir bahwa yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri, Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku akan bisa mengubah keluargaku terlebih dahulu. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun akan mampu memperbaiki negeriku, Kemudian siapa tahu, dengan begitu aku bahkan bisa mengubah potret dunia ini !

 

Tulisan ini, Terukir diatas batu nisan makam Westminster Abbey, Inggris, 1100 M.



Sungguh sebuah tulisan yang luar biasa..!


Para orang tua dan guru ....yang saya cintai, dimanapun anda berada, sesungguhnya kita tidak akan bisa mengubah siapapun sebelum kita mampu mengubah diri kita sendiri, semoga kita mau belajar dari sejarah dan bisa memetik hikmah yang terkandung didalamnya.

 

 

 

Apakah anak anda mengalami gejala ON & OFF ?

Para orang tua dan guru yang berbahagia.... Tahukah kita apa yang dimaksud dengan gejala On & Off itu...?

Ya apa bila ada diantara anak kita yang jika dirumah cenderung aktif tapi jika disekolah berubah menjadi pasif, atau sebaliknya itulah salah satu yang dimaksud dengan gejala on & off, atau yang dalam istilah awam sering di katakan sebagai anak yang "jago kandang".

Contoh lainnya misalnya apa bila salah satu orang tua sedang pergi, si anak menjadi aktif dan kreatif namun tiba-tiba setelah salah satu dari orang tuanya pulang kerumah mereka segera berubah menjadi pasif dan tidak kreatif lagi. Ini juga termasuk gejala on & off.

Jadi gejala on & off terjadi apa bila disatu lingkungan atau kondisi anak kita aktif namun dilingkungan atau kondisi lainnya tiba-tiba dia berubah menjadi pasif atau acuh tak acuh.

Sesungguhnya prilaku anak yang sehat adalah on & on artinya dimanapun dia berada dia selalu dalam kondisi sama, mirip seperti hand phone yang kita miliki jika hp yang kita gunakan tiba-tiba mati tanpa sebab padahal batreenya masih penuh biasanya ada sesuatu yang tidak beres dengan signal disekitarnya.

Begitu pula dengan anak kita jika tiba-tiba saja prilakunya berubah tidak seperti biasanya tentu saja pasti ada yang tidak beres dengan orang-orang disekitarnya dalam memperlakukan dirinya sehingga ia meresponnya dengan meng offkan dirinya sendiri.

Hal ini banyak saya temui pada keluarga-keluarga yang orang tuanya memiliki prilaku berbeda secara ekstrim misalnya Ayahnya keras tapi Ibunya Lembut, Ibunya Perfectionist sementara Ayahnya cenderung Fleksible. Bisa juga Keluarganya oke di rumah, tapi guru-guru disekolahnya sering memarahi, menghukum atau mengucapkan kata-kata yang merendahkan harga diri si anak.

Para orang tua dan guru yang berbahagia......Prilaku Off si anak ini sesungguhnya akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dirinya khususnya yang berhubungan dengan aspek kecerdasan dan prilaku.

Anak yang cenderung Off maka akan terganggu proses perkembangan potensi berpikir kreatif dan berpikir logisnya; jika hal ini tidak segera kita atasi maka kelak anak yang dibesarkan dalam kondisi semacam ini akan menjadi generasi yang pasif, masa bodoh dan tidak kritis terhadap permasalahan karena softwere kecerdasan yang seharusnya berkembang saat ia sedang dalam kondisi on telah menjadi tumpul karena ia sering berada dalam kondisinya off.

Sementara Prilaku anak yang sering cenderung off ini kelak akan menyebabkan ia akan menjadi orang yang minder, tidak punya percaya diri, temperamental dan prilaku2 buruk lainnya.

Gejala on & off inilah yang dideteksi menjadi sumber pokok munculnya prilaku bermasalah bagi anak-anak dirumah ataupun disekolah.

Wahai para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada; mari bersama-sama kita perbaiki sikap kita dalam mendidik dan mengajar anak-anak kita, mari kita perbaiki juga pola asuh kita dirumah agar anak kita selalu dalam posisi On & On agar kelak mereka bisa menjadi generasi kritis, kreatif, dan peduli pada nasib bangsanya...!

 

 

 

 

Jumat, 12 Maret 2010

KISAH ULAT BULU DAN KUPU-KUPU CANTIK



Pada suatu hari ada seorang ibu yang membeli beberapa pohon bunga yang ada di pot. Bunga itu diletakkan di halaman rumah untuk menambah ke asrian dan keindahan rumahnya. Sambil berkata kecil dalam hati, ibu ini berdoa pada Tuhan, Ya Tuhan...Melalui bunga-bunga ini semoga nanti akan banyak berdatangan kupu-kupu indah kerumahku...

Lalu si ibu ini kembali lagi pada kesibukannya sehari-harinya, setelah seminggu berselang ia menunggu dan menunggu, mengapa tidak juga ada kupu-kupu yang ia lihat dihalaman rumahnya tersebut. Hingga suatu hari betapa kagetnya si Ibu mendapati bahwa bukannya kupu-kupu yang datang tapi malah Ulat bulu yang merambat pada pohon-pohon yang dibelinya itu.

Bukan main marahnya....dan saking kesalnya si ibu ini dengan keras berkata....bagaimana sich Tuhan ini... lah wong yang saya minta adalah kupu-kupu yang cantik, eh yang datang malah ulat-ulat jelek seperti ini. Sambil terus mengumpat, pot-pot bunga yang penuh dengan ulat bulu itu akhirnya dipindahkan dari taman ke tempat tersembunyi di dalam gudang.

Sebulan sudah berselang, dan ibu tersebut telah melupkan kejadian pohon-pohon di pot yang dipenuhi ulat bulu tersebut.

Dan tepat di hari yang ke 30 sejak kejadian tersebut, si ibu rupanya sedang mencari peralatan tamannya yang rupanya lupa ia taruh di gudang. Dan ketika ia membuka pintu gudang, betapa kagetnya, ia melihat begitu banyak kupu-kupu yang berwarna-warni dan sangat indah memenuhi gudang tersebut. Kupu-kupu itu satu demi satu mulai berterbangan keluar pada saat pintu gudang dibuka...untuk mencari bunga-bungaan disekitarnya.

Terang saja kejadian yang luar biasa ini telah membuat si ibu tadi menjadi diam tertegun, ia tidak bisa berkata-kata lagi, melainkan hanya memandangi satu persatu kupu-kupu yang keluar dari gudang menuju tamannya. Dan tanpa sadar kakinya bergerak melangkah mengikuti arah kupu-kupu tadi terbang.

Alangkah Indahnya tamanku saat ini.....si ibu berujar dalam hati...., Ya Tuhan.....ternyata ulat bulu yang dulu jelek itu kini telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang begitu cantik dan menawan. Seandainya saja dulu aku tahu.......katanya dalam hati...mungkin aku tidak akan pernah mengeluh dan merasa terusik dengan keberadaan mereka.

Wahai...para orang tua yang berbahagia dimanapun anda berada..., begitulah kita para orang tua dan guru pada umumnya, sering kali melihat dan menilai anak-anak kita bak ulat bulu, yang mengganggu dan membuat kita gatal untuk selalu mengeluh, marah dan berusaha menyingkirkan mereka.

Anak kita tidak ubahnya seperti ulat bulu yang sering kali dinilai berdasarkan sisi negatifnya saja, padahal dibalik itu semua ada sebuah proses metamorfosa yang tersembunyi...... ya sisi indah yang kelak akan dimunculkan-nya saat mereka dewasa.

Saya sering mendengar banyak orang tua dan guru yang mengeluhkan anaknya yang hiper aktif dan tidak mau diam atau tidak bisa tenang...., Padahal sesungguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang yang sangat dinamis... kelak anak-anak ini akan mampu mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan, atau malah memimpin lebih dari satu perusahaan tanpa merasa kesulitan sama sekali.

Ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya keras kepala dan susah sekali di atur.....padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi Pimpinan-pimpinan oraganisasi/perusahaan yang sangat berhasil dangan peningkatan karir yang sangat cepat.

Atau ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya pemalu dan sulit bergaul, ia lebih suka menyendiri melakukan seuatu di kamar dan anaknya cengeng sekali. Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi anak yang sangat unggul dibidang Sains Teknologi atau bisa juga menjadi Seniman-seniman kelas dunia, mereka adalah anak-anak yang peka dan penuh cinta kasih terutama pada orang tuanya...

Lain lagi misalnya ada orang tua yang mengeluhkan anaknya terlau cerewet dan tidak tahu malu....bahkan cenderung malu-maluin katanya. Padahal sesunguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang-orang yang terkenal karena kemampuan tampilnya di depan umum dan keberaniannya untuk berekpresi.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Begitulah sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa anak-anak yang dulu pada saat masa kecilnya dianggap sebagai anak yang aneh dan menyebalkan seperti Ulat Bulu...namun nyatanya setelah mereka dewasa justru menjadi orang-orang yang sangat sukses dan terkenal di kehidupan.

Tapi bagaimana mungkin Sang Ulat Bulu akan bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, jika kita semua selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh, menjijikkan dan harus segera disingkirkan dari pandangan kita.

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Sesungguhnya..begitu banyak anak-anak Indonesia yang mengalami nasib mirip seperti ulat bulu tadi....dan karena mereka selalu di anggap sebagai anak bermasalah maka mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang indah....yah...begitu malangnya mereka.....sampai akhirnyanya mereka harus tetap menjadi ulat bulu disepanjang hidupnya. ya Ulat bulu yang benar-benar mengganggu kehidupan kita semua....

Mari kita renungkan bersama.....saya yakin.....jika kita semua mau berubah...kita akan banyak memiliki kupu-kupu indah yang berterbangan menghiasi seluruh bumi nusantara tercinta ini....

Mari bersama-sama kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta.

Kalau bukan kita siapa lagi...? Kalau bukan sekarang Kapan lagi...?

 

 

 

 

Rabu, 10 Maret 2010

SEBUAH PUISI UNTUK SANG GURU


Puisi ini saya dedikasikan buat Guru SD, mantan Guru SD, murid SD, mantan murid SD, orangtua yg anaknya sedang duduk di bangku SD atau pernah duduk di bangku SD.
------------------------------------------------------------------------------------
Dulu...Sekarang...
karya: Pudji Hastuti


Dulu... guruku berkata,
kamu kok nakal sih,
kamu bandel banget,
kamu susah diatur,
kamu kurang ajar,
kamu terancam tidak naik kelas
rapormu kebakaran,
mau jadi apa nanti besar?
mana prestasimu?
ah...akhirnya kamu lulus (SD) juga.

Sekarang... guru anakku berkata,
anak ibu nakal,
anak ibu usil,
anak ibu bandel,
anak ibu malas belajar,
anak ibu gak bisa diam,
anak ibu hiperaktif,
anak ibu...kayaknya autis ya?

Dulu aku anak-anak,
dulu aku seorang murid.
Sekarang aku punya anak,
sekarang aku seorang wali murid.

Hanya dalam hati kuberkata,
apakah ini karma?
apakah ini dosa masa lalu?
apakah sejarah kan terulang kembali?
apakah aku mewarisi sifatku kepada anakku?

Siapa yang tak ingin anaknya pintar?
Yang berprestasi, disayang guru, bisa dibanggakan.

Siapa yang ingin punya anak seperti ini?
Yang nakal, usil, bandel, hiperaktif, autis, gak normal.

Guruku...dulu dan sekarang,
kau tetap guruku dulu,
yang sekarang jadi guru anakku.

Guruku...dulu dan sekarang,
kau tetap digugu dan disayang.

Tolong, kutitip anakku sayang,
yang bikin pusing alang kepalang.


Inilah isi hati dan pengalaman saya yang saya tuangkan dalam bentuk puisi.
Sekarang anak saya telah saya keluarkan dari sekolahnya yang dulu merupakan sekolah saya.

Salah satu bentuk balasan kekecewaan saya adalah dengan membeli 5 buah buku tulisan Ayah Edy yaitu I love U Ayah Bunda, kemudian saya bagikan kepada guru2 dan kepala sekolah yang telah mengecewakan saya dan anak saya (salah satu buku tsb saya sumbangkan kepada perpustakaan di sekolah tsb agar guru lain yg tidak saya beri, dapat membaca buku yang bagus ini).

 

 

 

 

Selasa, 16 Februari 2010

Bunda tolong mandikan aku sekali saja, please...?! ----------> (Mom Top Story)


Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda" . Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.

Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please...please bunda" , pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.

Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.

Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".

Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.

Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.

Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.

Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!" lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.

Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.

Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku....Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.

Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.

 

 

 

 

Jumat, 12 Februari 2010

Papa gajinya dikantor berapa sih..????!!!! (people choice story)


---------------------------------------------------------------------
Bobby (nama samaran) adalah seorang Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, seperti biasa ia tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya Bagas, putra pertamanya yang baru duduk di kelas satu SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Papanya., biasanya Bagas memang sudah lelap ketika papanya pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Bagas menjawab, " Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"

"Lho, tumben, kok nanya gaji Papa segala? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja."
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-./hari. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?" Bagas berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.

Ketika Papanya beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Bagas berlari
mengikutinya. "Kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu
jam Papa digaji Rp 40.000,- dong," katanya. "Wah, sekarang kamu sudah pinter menghitunya ya.... Sudah sana, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Papanya.

Tetapi Bagas tak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,
Bagas kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"

"Sudahlah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah." "Tapi, Papa..." Kesabaran Papanya habis sudah. "Papa bilang tidur! ya tidur !" hardiknya mengejutkan Bagas.
Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Papanya nampak menyesali apa yang baru saja dilakukan pada anaknya. Ia pun menengok Bagas di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Bagas didapatinya sedang menangis terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Papanya berkata,
"Maafkan Papa, ya Nak. Papa sayang sekali sama Bagas. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan masih bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun akan Papa kasih."

"Papa, aku nggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini." "Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Bobby lembut.
"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga
puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Papa itu sangat berharga.

Jadi, aku mau beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi
karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp 40.000,-, maka dalam setengah
jam aku harus membayar Papa Rp 20.000,-.

"Uang tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Papa".

"Aku hanya ingin sekali bermain bersama papa, setengah jam saja, dan nanti aku janji dech akan bayar Rp.20.000,- untuk waktu papa yang terbuang bermain bersama aku" Boleh ya Pa...?" katanya polos sambil memohon pada papanya.

Sang Papa tiba-tiba terdiam tubuhnya tiba-tiba gemetar dan bibirnya seketika terkunci rapat tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun.. Segera ia berlutut lalu di dekapnya bocah kecil itu erat-erat, tak terasa airmatapun menitik dari sudut matanya.

Malam itu sepertinya ia mendapatkan pelajaran yang begitu berharga dari seorang bocah kecil tercintanya akan apa arti cinta kasih yang sesungguhnya.

 

 

 

 

Senin, 18 Januari 2010

Kegundahan Hati seorang pelajar akan Dunia Pendidikan di Negerinya



------------------------------------------------------------------------------------
Sebelumya maaf kepada pihak-pihak yang tersinggung atas adanya esai ini. Esai ini hanya sebagai media untuk berbagi pengalaman dan menambah wawasan kepada anda-anda semua. Terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya untuk berfikir seperti ini, seperti kedua orang tua saya, Ayah Edi, Kak Munas, Kak Abi, Kak Boy dan Kak Dimas. dan Nendra (walaupun kita belum bertemu, saya sudah sangat terinspirasi dengan anda dengan membaca notes dan cerita dari Kak Abi).Note: nama-nama tersebut adalah para tutor Home Schooling Red.

Di suatu lembaga formal yang bernama sekolah, kita sering dikekang oleh sistem pendidikan dan teks buku pelajaran yang mengkotak-kotakkan suatu disiplin ilmu pengetahuan dari pihak yang mengatur pendidikan negeri ini. Mereka lalu menekan kepala sekolah, kepala sekolah menekan guru, dan akhirnya guru melimpahkannya kepada peserta didik dalam hal ini siswa. Para guru kebanyakan mewajibkan kita untuk harus bisa dalam semua hal. Padahal setiap siswa memiliki kesukaan dan keinginan masing-masing. Mereka sebenarnya bisa saja dipaksa untuk bisa mendapatkan nilai-nilai yang tinggi. Tapi dengan demikian mereka akan merasa jenuh dan sangat tertekan. Pada akhirnya para siswa tidak dididik dengan konsep berpendapat secara analitis kritis dan kooperatif, melainkan terpaku dan kaku pada sistem dan buku pelajaran. Padahal sistem pendidikan di negeri kita tercinta ini mengacu pada sistem pendidikan pada tahun 1900an. Sungguh tidak relevan dan tidak pantas untuk zaman milenium seperti sekarang ini.

Umpamakan ada sebuah kotak. Siswa yang bisa untuk menerima suatu ilmu dengan sistem sekarang ini masuk kedalam kelompok dan berada di dalam kotak tersebut. Tetapi untuk lainnya yang tidak bisa dengan sistem sekarang akan merasa stress dan tidak dapat menerima suatu ilmu dengan baik. Akan terasa menyakitkan bagi mereka apabila harus dipaksakan masuk ke dalam kelompok yang berada di dalam kotak tersebut.

Mengacu dengan buku pelajaran pun sebenarnya bukanlah hal yang tepat. Karena untuk mempelajari dan memahami buku pelajaran tidak harus sampai 3 atau 6 tahun, melainkan hanya 3 bulan sampai 1 tahun pada setiap jenjang. Ini tergantung dari kecepatan pemahaman dan pemikiran siswa masing-masing. Pemahaman yang berbeda-beda bukanlah menjadi suatu masalah, karena setiap masing-masing manusia perseorangan memiliki cara belajar dan pemahaman sendiri-sendiri. Yang lebih penting dari buku pelajaran adalah pembangunan karakter seseorang. Pembangunan karakter ini bisa lebih lama daripada hanya mempelajari buku pelajaran. Inilah yang harus ditekankan dan ditanamkan oleh guru-guru kepada siswa. Pernah suatu saat Ayah Edi berbicara mengenai hal ini di suatu radio ternama. Di Australia para guru tidak menekankan anak didiknya untuk belajar mengitung, tetapi mereka lebih ditekankan untuk pembangunan karakter, contohnya mengantri, menyebrang jalan, menolong orang lain. Mereka berkata bahwa sangat sulit untuk menanamkan dan membangun karakter-karakter yang baik kepada anak didiknya dibandingkan dengan mengajari mereka berhitung.

Di sekolah formal, banyak sekali terjadi yang namanya bullying baik fisik maupun mental. MOS atau Masa Orientasi Siswa seharusnya menjadi suatu ajang pengenalan siswa baru oleh para guru serta kakak kelas. Tetapi dalam konteks sekarang ini, MOS menjadi suatu ajang pembalasan dendam kakak kelas terhadap adik kelasnya karena sang senior pernah juga disakiti fisik dan mentalnya. Sang senior berdalih bahwa hal ini adalah agar adik kelas siap untuk menghadapi kerasnya perjuangan belajar di sekolah dan mendidik agar menjadi orang yang tegas. Padahal sesungguhnya adik kelas pasti akan merasa down apabila diberikan shock teraphy dengan "kekerasan" seperti itu. Dan guru-guru sepertinya tidak menanggapi hal itu dengan serius. Mereka juga berdalih dengan alasan yang sama dengan sang senior. Juga dengan LDKS atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Seharusnya ini menjadi tempat siswa untuk menempa ilmu untuk menjadi pemimpin yang baik, sekalipun nantinya hanya akan menjadi pemimpin keluarga. Tetapi sama saja dengan MOS, "kekerasan" tetap terjadi. Misalnya, disuruh membuat tanda nama yang menurut para siswa sangat sulit untuk dilakukan dalam waktu 3 hari. Dan apabila terjadi kesalahan, hukuman-hukuman yang sebenarnya tidak mendidik justru malah diberikan oleh para senior, seperti menceburkan diri ke dalam lumpur. Apakah ada hubungannya tanda nama yang salah dengan menceburkan diri ke dalam lumpur? Apakah cara mendidik harus dengan "kekerasan" agar siswa menjadi orang yang mandiri dan bertanggungjawab terhadap dirinya? Tentu tidak bukan. Pasti pihak-pihak yang merasa dirugikan, terutama orang tua siswa akan tidak terima dengan hal ini. Tetapi malah ada orang tua "bodoh" yang terima saja anaknya diperlakukan sangat "kejam" oleh para senior dengan dalih yang sama dengan senior maupun para guru. Sungguh hal yang sangat mengerikan sekali.

Sekolah Non Formal dalam hal ini homeschooling adalah suatu pilihan untuk orang-orang yang tidak berada di dalam kotak tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas. Dan homechooling dapat dijadikan alternatif untuk mereka yang merasa jenuh dengan cara belajar di sekolah formal dan bukan berarti hanya dijadikan pelarian. Cara belajar di homeschooling juga tidak seperti sekolah formal yang lebih menonjolkan dan mengacu pada nilai. Yang lebih dipentingkan adalah hasil karya siswa seperti esai, pendapat atau argumen, diskusi, portofolio bahkan bisa berupa lagu ataupun hasil kerajian tangan dan lain sebagainya. Ini yang membuat siswa lebih kreatif untuk membuat suatu karya cipta daripada harus mengejar nilai untuk sebuah kata-kata yang sangat berharga buat mereka yaitu "KELULUSAN". Seharusnya pula nilai dalam hal ini Ujian Nasional tidak menjadi acuan untuk kelulusan seseorang. Ujian Nasional bisa menjadi evaluasi bagi para siswa dan guru agar dapat menjadi lebih baik untuk kedepannya. Karena sudah banyak sekali korban dari Ujian Nasional. Misalnya, siswa yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan nilai yang tinggi sedangkan siswa yang memiliki prestasi bagus dalam kesehariannya mendapatkan nilai yang anjlok. Sangat miris sekali, tapi inilah realita. Seahrusnya yang bisa menentukan lulus atau tidaknya tergantung dari keseharian para siswa. Jadi setiap sekolah formal atau homeschooling mempunyai independensi untuk bisa menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa. Tetapi sistem yang seperti ini juga harus mempunyai suatu badan yang memayungi dan mengawasi pergerakan setiap lembaga belajar. Ini untuk meminimalisir kecurangan-kecurangan yang dapat mungkin terjadi, misalnya lulus dengan jalur uang. Belajar di homeschooling juga lebih mengedepankan pembangunan karakter, minat, bakat dan konsistensi seorang siswa. Sebelum masuk kepada pembelajaran, para homeschoolers akan diberikan pengenalan tentang homeschooling selama satu bulan. Di satu bulan pertama itu lebih banyak pembangunan karakter dan treatment atau brain storming bagi para homeschoolers yang pernah merasakan menjadi pelajar di sekolah formal atau pernah memiliki masalah sebelumnya, misalnya bullying. Apakah treatment atau brain storming itu? Kedua istilah ini mempunyai maksud bahwa homeschoolers akan dipacu kerja otak yang kreatif dan diasah kembali cara berfikirnya agar mereka bisa mengikuti homeschooling yang sesungguhnya sehingga ketika mereka membahas sesuatu dengan komperhensif dan mendalam. Di homeschooling juga ditekankan untuk mengenal, memahami, dan mempraktekkan suatu disiplin ilmu yang diminati dan dibutuhkan. Masing-masing pun memiliki minat, bakat dan tingkat konsistensi yang berbeda-beda. Jadi setiap homeschoolers pun berbeda-beda penanganannya, tergantung dari beberapa hal di atas. Pendidik di homeschooling dalam hal ini tutor adalah orang yang dipilih secara selektif, ahli dalam bidangnya, memiliki cara fikir yang visioner, mampu mehamami dan mengerti cara untuk menangani setiap homeschoolers. Jadi homeschoolers lebih mudah menerima suatu disiplin ilmu tanpa harus merasakan stress atau jenuh yang berlebihan. Bukannya memojokkan dan menyalahkan sekolah formal hanya saja kelebihan yang disediakan sekolah formal sangat sedikit. Misalnya kita lebih banyak mengenal dan dapat bersosialisasi dengan teman-teman, belajar disiplin karena diwajibkan untuk masuk pada jam 06.30, dapat menampung banyak peserta didik dan lain-lain. Tetapi para siswa kebanyakan selalu tertekan dan tidak merasakan kenikmatan belajar. Di homeschooling pun juga tidak sempurna. Terkadang para homeschoolers kesulitan untuk bersosialisasi karena jarang bertemu dengan teman-temannya. Tetapi ini tidak menjadi persoalan yang serius apabila homeschoolers memiliki teman, relasi atau apaupun itu di luar sekolah. Jadi untuk saat ini pilihan untuk homeschooling adalah pilihan yang lebih baik karena para siswa lebih fokus terhadap apa yang diiniginkan dan di butuhkan serta tidak tertekan dengan penilaian dengan angka-angka "sesat".

Semoga pembicaraan presiden kepada menteri pendidikan yang baru akan direalisasikan dan menjadi suatu sistem pendidikan di negeri yang sekali lagi sangat kita cintai ini. Beliau dalam hal ini presiden berkata dan berpesan bahwa penanaman karakter harus dikedepankan dalam sistem pendidikan negeri ini. Tentunya sangat diharapkan sekali agar sistem pendidikan harus segera diubah sehingga seluruh siswa yang ada di Indonesia tidak menjadi generalis melainkan spesialis di bidangnya masing-masing. Lebih cepat lebih baik, karena pada tahun 2010 akan dimulai percobaan pasar bebas di seluruh dunia. Para pemuda dan pemudi Indonesia harus berjuang menghadapi orang-orang asing. Akankah mereka menjadi tuan di negerinya sendiri? Anda bisa menjawabnya.?

Cukup sekian untuk esai yang mungkin terlampau panjang ini. Mohon maaf apabila ada kekurangan terutama bahasa yang saya gunakan terlalu berputar-putar. Terimakasih banyak kepada yang ingin meluangkan waktunya untuk membaca esai ini

============================================
Di tulis oleh Nurrahman Andrianto, seorang pelajar SMA yang kini memilih untuk home schooling untuk bisa memetakan ulang potensi unggul yang dimilikinya yang sebelumnya telah tenggelam bersama tugas-tugas sekolah yang tiada habisnya dan tak jelas apa manfaatnya baginya di kehidupan kelak.

Mari kita renungkan pesan-pesan berharga yang terkandung di dalamnya.

 

 

 

 

Jangan-jangan anak saya dominan otak kanannya..?


------------------------------------------------------------------
Para orang tua yang berbahagia, suatu hari saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan anaknya yang disekolahnya tidak pernah bisa menyelesaikan tugas gurunya dengan tepat waktu, bila ujian iapun tidak mampu untuk menyelesaikannya, atau diselesaikan tapi melompat-lompat. Saya khawatir sekali jika dia nanti jadi anak gagal....lalu ibu ini terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.

Kami berusaha untuk menenangkan sang ibu, lalu kami jelaskan bahwa menurut pengalaman kami, anak tidak bisa menyelesaikan tugas disekolah dapat disebabkan oleh beberapa hal: pertama adalah karena si anak mengalami kesulitan dalam memahami tugas yang diberikan gurunya karena gurunya kurang sabar menjelaskannya.

Kemungkinan kedua adalah karena si anak memiliki kecenderungan berpikir dengan menggunakan otak kanannya. Apa artinya.... ya seorang anak otak kanan adalah anak yang mendapatkan berkah dari Tuhan memiliki kemampuan untuk menjadi orang-orang kreatif yang mungkin berprofesi dibidang seni ataupun sains.

Dalam kasus ini seorang anak yang lebih dominan otak kanannya, pada saat berpikir dia lebih banyak mengunakan kemampuan kreatif dan seninya, oleh karena kemampuan seni yang utama maka pekerjaannya sangat tergantung pada inspirasi dan ketenangan jiwanya, semakin tenang maka semakin cepat ia menyelesaikannya. Seorang seniman lukis misalnya dalam melukis sebuah mahakarya, tidak dapat dibatasi oleh waktu dalam menyelesaikannya, melainkan hanya tenggat waktu maksimum penyelesaian karya yang bisa disebutkan. Seperti juga seorang seniman, oleh karena itu seorang anak otak kanan yang mengerjakan tugas tanpa batas waktu akan mampu menyelesaikannya dengan baik, bahkan terkadang lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan.

Berdasarkan penelitian, anak yang cenderung berotak kanan adalah anak yang otak belahan kanannya lebih dominan dalam berpikir ketimbang belahan otak kirinya. Dan Roger Sperry seorang peneliti otak menemukan bahwa otak manusia bagian berpikir tingkat tinggi terbagi kedalam 2 belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan sesuai letak posisi tangan kita. Masing-masing orang memiliki kecenderungan dominan yang berbeda dalam berpikir. Dari kedua belahan tersebut ada anak yang lebih dominan menggunakan otak kanan, ada yang seimbang tapi ada juga yang lebih dominan otak kiri.

Jika anda tidak percaya bahwa otak memiliki kecenderungan dominan bereaksi, mari kita lakukan test bersama, begini caranya... coba angkat kedua tangan anda.... kemudian goyang-goyangkan dan lemaskan jemari-jemari tangan anda...., lalu kemudian pertemukan jemari tangan kanan dengan jemari tangan kiri sehingga persis dalam posisi orang yang hendak berdoa atau memohon. Nah setelah jemari anda saling menggenggam coba lihat posisi ibu jari yang berada paling atas....apakah ibu jari tangan kiri atau ibu jari tangan kanan...? Jika ibu jari kiri yang di atas maka anda adalah dominan otak kiri dan sebaliknya.

Lalu lakukan test ini pada orang lain baik keluarga, anak-anak atau teman-teman kita, lakukan hal yang sama...., perhatikan apakah hasilnya sama pada setiap orang... Jika tidak itulah cara sederhana untuk membuktikan bahwa otak kita memiliki kecederungan yang berbeda dalam berpikir.

Anak yang dominan otak kanannya cenderung memiliki kemampuan kreatifitas yang sangat tinggi, dan biasanya bekerja berdasarkan insting dan inspirasi. Hal inilah yang menyebabkan seorang anak otak kanan sulit sekali dengan target-target waktu yang ketat.

Jadi saya jelaskan pada ibu ini, bahwa gejala ini sebenarnya sangat lumrah pada anak yang cenderung dominan otak kanannya. Mengapa anak otak kanan sering tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikannya dengan batas waktu yang ketat, karena pikirannya bekerja berdasarkan inspirasi, imaginasi dan seni. Oleh karena itu jika kita ingin seorang anak otak kanan mampu menyelesaikan sesuatu maka jangan berikan target waktu, tapi berikanlah ketenangan dan kebebasan untuk menyelesaikannya. maka ia bisa lebih cepat selesai.

Orang-orang yang saat ini berprofesi di bidang-bidang yang mengandalkan kreatifitas sebagian besar masih memiliki ciri-ciri seperti ini, ya ciri-ciri yang dibawanya sejak kecil sebagai anak yang dominan menggunakan otak kanannya.

Dan setelah mendengarkan penjelasan tersebut si ibu ini nampak menjadi jauh lebih tenang dan mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga saja ini pertanda positif bagi orang tua ini juga bagi anaknya.

 

 

 

 

Gejala Tekanan Kejiwaan Pada Anak


--------------------------------------------------------
Suatu hari ada orang tua yang bertanya tentang anaknya yang berusia balita, bila di minta pergi ke sekolah di sulit sekali, dan jika di paksa dia tidak mau turun dari mobil, dan bahkan belakangan ini sering mengeluh kepalanya pusing, sakit perut dan sebagainya...

Apakah anak saya berbohong atau apa? tanya seorang ibu kebingungan kepada saya.

Kebetulan anaknya yang berusia 5 tahun itu di ajak juga untuk bertemu dengan saya. Lalu saya jelaskan bahwa dalam kasus ini sepertinya anak ibu tidak berbohong, apa lagi jika sebelumnya tidak pernah mengeluh seperti itu. Saya melihat ini lebih cenderung pada gejala stress anak menghadapi sekolahnya atau yang juga dikenal sebagai Gejala Psikosomatis.

Pada ibu ini saya jelasakan bahwa dulu sistem pendidikan menganut pada prinsip bahwa setiap anak adalah sama dan seragam sehingga setiap anak harus bisa mengikuti keinginan gurunya. Namun setelah dilakukan penelitian 30 tahun terhadap anak, ternyata ditemukan bahwa masing-masing anak itu unik, baik secara fisik, psikologis maupun cara otaknya bekerja. Oleh karena itu sistem pendidikan modern telah mengubah prinsip dasar sistem pengajarannya bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, maka guru dan sekolah harus bisa memfasilitasi masing-masing keunikan anak tsb agar mereka semua bisa berhasil dalam proses belajar. Ya semua anak harus bisa berhasil.

Lalu si ibu tadi menyanggah, Padahal saya sudah sekolahkan dia di sekolah yang mahal lho......

Nah itu masalahnya, Mahal tidak menjamin menjalankan prinsip pendidikan sesuai fitrah anak, dan bahkan banyak juga yang di atas kertas sudah mencanangkan sistem pendidikan yang modern namun di lapangan masih saja para gurunya menerapkan sistem dan cara belajar lama. Nah disinilah kuncinya, untuk mengetahui apakah sebuah sekolah bagus atau tidak, kita bisa perhatikan dari dua aspek, yang pertama adalah anak kita semakin kritis dan berani mengungkapkan pendapat dan yang kedua adalah prilakunya santun dan peduli.

Biasanya sekolah yang baik akan membuat anak-anaknya betah bersekolah atau bahkan membuat anaknya lebih senang bersekolah dibandingkan libur.

Setelah saya memberi penjelasan pada Ibunya lalu saya anaknya saya ajak bicara, di luar dugaan dia berani menjawab dengan sangat jelas sekali; Saya awali pertanyaan saya seperti ini;

Sayang, nak apa kamu suka bersekolah....dia diam...tidak menjawab.
Apakah kamu ada masalah di sekolah....dia mengangguk
Apakah kamu ada masalah jadi sekarang tidak suka bersekolah..? dia mengangguk..lagi.
Apakah masalahnya dengan teman atau guru....? dia mulai menjawab guru.
Apakah semua guru, beberapa guru atau hanya satu guru...? dia menjawab hanya satu.
Boleh ayah tahu namanya....? dia menjawab Ibu X

Lalu saya menoleh ke Ibunya...., Ibu dengar...penjelasan langsung anak ibu...?

Akhirnya si Ibupun mengangguk, ya Ayah mungkin anak saya benar. Karena sejak ia ganti guru dia menjadi berubah seperti ini.

Lalu saya harus bagaimana ayah...? Ya sekolah yang baik adalah sekolah yang guru-gurunya menjadi favorit bagi murid-muridnya, jadi pertama coba ajak pihak sekolah untuk bekerjasama; jelaskan hasil pembicaraan kita ini pada sekolah dan kita lihat responnya. Jika masalah ini di tanggapi positif dan dilakukan usaha dan tindakan perbaikan, maka itu sekolah yang peduli namanya.

Lalu jika tidak di tanggapi dan tidak ada perbaikan bagaimana...?

Ya saya pikir ibu bisa mengambil kesimpulan sendiri ; dan menurut saya sudah saatnya kita memilih sekolah yang peduli pada permasalahan tiap siswanya. Karena kunci keberhasilan siswa adalah pada kepedulian pihak orang tua dan sekolah. Pendidikan itu tidak akan berhasil tanpa kepedulian dari orang tua dan pihak sekolah.

Mari kita bangun kerjasama anatar orang tua dan sekolah untuk membuat anak-anak kita sukses belajar dan bukannya saling melempar tanggung jawab.

 

 

 

RENUNGAN

Suatu ketika saya membaca tulisan seorang Komedian, hanya yang menarik kali ini adalah sang komedian tidak bicara tentang komedi melainkan sebuah kelucuan tentang kehidupan.

Saya sangat ingin sekali membagikan tulisan ini pada anda, tentu saja bagi yang tertarik akan arti kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Inilah isi tulisan dari George Carlin sang komedian tersebut:

Saat ini kita semua sedang berada di abad Mellenium , yah....kita semua kita adalah orang-orang moderen dengan berbagai kemajuan luar biasa yang berhasil di capai.
Kita merasa telah berhasil menciptakan peradaban yang jauh lebih baik, kehidupan yang jauh lebih maju, tapi apa memang demikian. Cobalah kita renungkan sejenak apakah kita telah berhasil atau malah gagal untuk menciptakan peradaban yang jauh lebih baik dari generasi pendahulu kita.

Perhatikanlah kita berhasil membangun gedung-gedung yang lebih tinggi tetapi sekaligus juga memiliki belas kasih yang jauh lebih rendah.

Kita berhasil membangun jalan bebas hambatan yang lebih lebar tetapi memiliki sudut pandang yang lebih sempit.

Kita berhasil mencari uang lebih banyak, tetapi memiliki waktu lebih sempit
Kita memiliki harta lebih banyak, tetapi menikmati lebih sedikit.

Kita memiliki rumah yang lebih besar tapi keluarga yang lebih kecil
Kita memilki rumah yang lebih banyak tetapi lebih sedikit di tinggali.

Kita memiliki lebih banyak gelar, tetapi logika yang lebih terbatas
lebih banyak pengetahuan, tetapi nurani yang semakin terkikis habis
lebih banyak ahli, tetapi jauh lebih banyak masalah;
lebih banyak obat-obatan, tetapi kesehatan yang lebih rentan

Kita minum dan merokok terlalu banyak, meluangkan waktu dengan terlalu ceroboh,
sementara tertawa terlalu sedikit, menyetir terlalu cepat, marah terlalu sering, tidur terlalu larut, bangun terlalu lelah, membaca terlalu jarang, menonton TV terlalu banyak, dan berdoa hampir tidak pernah.

Kita telah melipatgandakan harta milik kita, tetapi mengurangi harga diri kita.

Kita terlalu banyak berbicara, tapi terlalu jarang mendengarkan dan berbuat.

Kita telah mengikuti berbagai seminar bagaimana mencari uang berlimpah, tetapi bukan mencari kehidupan yang bahagia dan penuh arti.

Kita telah mencapai bulan, tetapi justru memiliki masalah dalam menyeberang jalan, membuang sampah dan menyapa tetangga baru kita.

Kita telah mengalahkan luar angkasa, tetapi gagal mengalahkan ego kita sendiri.

Kita telah melakukan hal-hal besar, tetapi bukan hal-hal yang mulia.

Kita telah membersihkan udara, tetapi mengotori sang jiwa.
Kita telah menciptakan teknologi, Tapi teknologi yang menghancurkan bumi tempat kita bergantung hidup.

Kita belajar untuk bisa selalu bergerak lebih cepat bukan menjadi lebih sabar.
Kita lebih banyak menciptakan alat komunikasi namun berkomunikasi lebih sedikit.

Sesungguhnya kita sedang berada pada zaman dimana makanan lebih cepat disajikan namun lebih lambat di cerna , banyak dilahirkan orang-orang besar tapi dengan mental yang kerdil , pendapatan yang tinggi tapi amal yang yang semakin rendah.

Ini adalah zaman dimana banyak negosiasi perdamaian dibuat tetapi jauh lebih banyak peperangan terjadi.

Ini adalah zaman dimana perjalanan dibuat singkat, popok sekali pakai buang, moralitas yang mudah dibuang, hubungan satu malam, berat badan berlebihan, dan pil-pil yang bisa melakukan segalanya mulai dari menceriakan, menenangkan, sampai membunuh dan mematikan.

Ini adalah zaman dimana banyak barang tersedia di pasar tapi orang semakin sulit untuk mendapatkannya.

Zaman dimana kemajuan teknologi dapat menyampaikan pesan ini kepada Anda, sekaligus zaman dimana Anda dapat memilih apakah Anda akan medengarkan renungan ini atau hanya berkata Ah itu tidak penting, saya tidak ada waktu untuk merenung..!?

Ingatlah,
luangkan lebih banyak waktu dengan orang yang Anda kasihi, karena mereka tidak akan selamanya disisi anda.

Ingatlah,
ucapkan kata yang baik kepada orang yang memandang Anda dengan ketakutan,
karena si kecil tersebut akan segera tumbuh besar dan meninggalkan Anda.

Ingatlah,
beri pelukan hangat kepada orang di sisi Anda, karena itulah satu-satunya harta yang dapat Anda berikan dengan tidak membutuhkan biaya apapun.

Berikan waktu untuk mencintai orang-orang yang telah mencintai anad, berikan waktu untuk berbicara! Dan berikan waktu untuk berbagi pikiran-pikiran yang berharga di benak Anda.!

Anak kita tidak meminta banyaknya harta kita melainkan hanya banyaknya waktu kita bersamanya.

Anak kita tidak membutuhkan kedekatan kita pada para penguasa dan orang-orang terhormat, melainkan hanya kedekatan kita, dengannya.

INGATLAH SELALU..!
Hidup tidak diukur oleh jumlah nafas kita, melainkan oleh bagaimana kita telah menghabiskan nafas kita.

Marilah kita renungkan apakah kita sedang berada dalam proses kemajuan atau malah kemunduran dari peradaban zaman yang sedang kita jalani..?

 

 

 

 

Kamis, 03 Desember 2009

Jeli Memilih Sekolah yg BENAR-BENAR UNGGUL


------------------------------------------------------------------------------
Jeli dalam memilih sekolah yang tepat dan cocok untuk anak kita

Hampir semua sekolah saat ini mengklaim dirinya sebagai sekolah unggulan dengan berbagai variasi kata seperti sekolah Teladan, sekolah Favorit, terkareditasi A dsb. namun nyatanya begitu anak kita disekolahkan di sana malah dinyatakan bermasalah atau mogok sekolah.

Yang lebih buruk lagi sekolah yang mengklaim dirinya unggulan tadi tidak mampu membuat semua anak menjadi anak yang unggul dibidangnya masing-masing, padahal untuk bisa masuk saja anak kita harus di saring dulu, dipilih dulu mana yang layak di didik dan tidak layak didik.

Bagaimana mungkin sebuah mesin yang bahan bakunya emas dan hanya menghasilkan emas kembali bisa dikatakan sebagai mesin yang unggul. Bahkan tukang emas di pasar pun sangat pandai untuk membuat perhiasan emas dari bahan baku emas. Justru sebuah mesin yang hebat dan unggul mestinya mampu membuat sesuatu dari bahan baku yang dianggap tak bernilai/sampah menjadi suatu produk yang bernilai jual seperti emas.

Oleh karena itu agar kita tidak bingung dan terjebak pada persaingan promosi Sekolah ada baiknya kita membaca ciri-ciri sekolah yang benar-benar unggul yang nantinya bisa dipastikan akan membuat anak-anak kita benar-benar unggul di kehidupan nyata.

Berikut ini ada sebuah tulisan yang mungkin baisa membantu kita semua para orang tua yang hendak mencari sekolah bagi putra-putrinya.


I. Hasil Penelitian Pada Sistem Sekolah yang ada pada umumnya:

Berpusat pada Jasmani saja, bukan pada Jasmani dan Rohani (Holistic) kurangnya pemahaman mengenai aspek rohani yang meliputi fungsi-fungsi kerja otak dan psikologi perkembangan anak dll.

Berpusat pada kepentingan guru bukan murid (yang penting sdh ngajar tak perduli murid mengerti atau tidak) Pertanyaan yang lazim diantara para guru dan kepala sekolah....eh sudah sampai dimana ngajarnya....? wah aku mesti ngebut nich waktunya sudah hampir habis.

Berpusat pada target materi/kurikulum bukan dinamika kelas (yang penting target selesai, tak perduli kelas pasif, ribut atau murid bolos sekalipun)

Berpusat pada pemahaman fungsi otak yang terbatas (IQ) bukan pada Multiple Intelligence (Kecerdasan Unik tanpa batas) Pengakuan anak pandai yang sangat terbatas pada kemampuan Eksakta & Verbal. “Jadi wajar bila dalam tiap kelas paling-paling Cuma ada 5 orang saja yang pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Berpusat pada kemampuan Naluri Mengajar bukan pada keahlian profesional mengajar berdasarkan pelatihan. (Sebagian besar guru mengajar berdasarkan naluri dan sedikit pengalaman bagaimana mereka dulu di ajar)

Berpusat pada LOWER ORDER THINKING bukan Highly Order Thinking. (Menghapal soal yang Jawaban sudah ada/dimiliki gurunya)

Berpusat pada 1 Model TES (Verbal Test Model/Schoolastic Aptitude Test) bukan berdasarkan tes beragam yang disesuaikan dengan jenis bidang dan mata pelajaran dan keunggulan spesifik anak.

Berpusat pada hasil akhir (hanya sebagai uji ingatan bukan pada proses perbaikan yang diamati dan dicatat dari waktu kewaktu)

Berpusat pada proses Imaginatif bukan realitas (anak kita tidak pernah mengerti manfaat ilmu yang diajarkan bagi realitas hidup mereka kelak)

Guru sebagai sumber kebenaran (sindrom Teko Cangkir bukan korek api dan kayu bakar) bahwa guru hanya sebagai menuang air bukan pembangkin minat belajar anak.

Berpusat pada ruang dan tempat yang terbatas. (Bayangkan anda duduk disatu ruangan selama berjam-jam, apa lagi kursinya keras) nah itulah yang dialami murid-murid di sekolah kita, duduk dibangku yang keras selama berjam-jam.

Miskinnya pemberian dukungan belajar/Motivasi dari para guru (guru lebih suka memuji yang sukses dari pada membangkitkan yang gagal serta memuji usaha kebangkitannya, terlepas dari kegagalan demi kegagalan (Sindrom Belajar Sepeda) Dalam belajar sepeda kita bisa baru bisa naik sepeda setelah beberapa kali mengalami kegagalan. Tidak pernah ada anak yang langsung bisa naik sepeda tanpa pernah jatuh.

Guru sebagai penguji bukan sebagai pembimbing, Guru merasa tidak bertanggung jawab terhadap kegagalan para siswanya dalam ujian yang dibuatnya sendiri. Salah satu sistem pendidikan di perguruan tinggi di AS. menempatkan dosen sebagai pendamping, sedangkan yang menentukan kelulusan adalah pihak luar sekolah yang juga merupakan user dari si siswa. Kegagalan siswa dalam ujian sekaligus menunjukkan kegagalan dosen dalam mengajar.

Berpusat pada Tradisi bukan Kreatifitas (HOT SPOT – Hot Spot adalah kurikulum dinamis dan pembahasan masalah yang tidak didasarkan pada buku wajib, malainkan dibahas dan dikembangkan dari kasus-kasus yang sedang terjadi disekitar kehidupan anak-anak), Sementara Tradisi Kurikulum adalah statis, selalu sama yang diajarkan dan sering kali tidak relevan dengan perubahan zaman yang dialami siswanya sekarang, sehingga pendidikan dari waktu-kewaktu tidak mengalami kemajuan. Ingat waktu kita masih kecil bagaimana kita diajari menggambar..... apa yang yang kita gambar.....? Pemandangan dengan dua buah gunung, jalan ditengahnya, pohon dipinggir jalan.....? nah itulah salah satu contoh metode “Tradisi” dalam mengajar.

Sekolah Lebih tepat disebut sebagai Lembaga Pengajaran bukan Lembaga Pendidikan, (Mengajar adalah membuat tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa sedangkan Mendidik adalah membuat anak tidak mau menjadi mau.) Sasaran mengajar adalah Ilmu sedangkan sasaran mendidik adalah moral dan karakter. Oleh karena wajar jika banyak anak didik disekolah yang justru memiliki karakter sama seperti orang yang tidak terdidik.


II. Hasil Riset Sistem Sekolah Berbasiskan Multiple Intelligence dan Holistic Learning
Selain memperhatikan unsur-unsur tersebut di atas, ada beberapa poin yang dapat membantu orang tua dalam memilih sekolah yang benar-benar berkualitas bagi masa depan anaknya.

Memiliki Konsep Sekolah yang jelas dan tepat.
Konsep sekolah sangat penting, karena konsep ibarat sebuah “resep” dalam pembuatan kue, Hanya konsep yang tepat sajalah yang akan menghasilkan kue-kue yang berkualitas. Oleh karena itu jenis kue yang sama sering kali memiliki rasa yang berbeda-beda. Hanya kue dengan resep yang tepatlah yang dapat menghasilkan rasa yang lezat dan disukai.

Pemahaman yang mendalam akan konsep sekolah
Seluruh Jajaran mulai dari pimpinan, guru, administrasi secara keseluruhan mengetahui dan memahami Konsep Dasarnya yang dimiliki oleh sekolahnya, dan menerapkan konsep tersebut kepada siswa dalam proses belajar dan mengajar.

Program Pengembangan SDM yang kontinu
Guru-guru yang secara terus-menerus mendapat pelatihan dan program pengembangan yang berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan keahliannya.

Melibatkan Orang tua dan anak secara aktif.
Proses ini akan sangat membantu kedua belah pihak untuk dapat menjamin tersolusikannya setiap permasalahan anak. Karena anak pada dasarnya merupakan produk orang tua dan sekolahnya. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan mengadakan pelatihan pendidikan bagi orang tua, Voluntary Parent, Pemecahan Problem Prilaku Bersama, Kunjungan ke Objek Pembelajaran Luar Sekolah.

Dasar Rekrutmen Guru-guru yang tepat dan ketat.
Pemilihan guru dan para pendidik harus lebih mengutamakan pada Kecintaan kepada anak serta bidang pendidikan bukan pada Gelar-gelar akademik semata, karena banyak sekali guru yang bergelar tinggi tapi justru tidak mencintai bidangnya.

Guru yang memahami psikologi perkembangan anak
Para gurunya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai psikologi anak dan pendidikan. (Psikologi Perkembangan, Gaya Belajar, Komunikasi). Dia bisa menjelasakan tidak hanya apa yang diberikan dalam proses pembelajaran akan tetapi juga mengapa dan untuk apa hal itu diberikan pada anak.

Para guru yang menguasai teknik-teknik pengajaran dan pendidikan.
Guru harus menempatkan posisinya sebagai sahabat bagi siswa bukan sebagai instruktur; sehingga siswa merasa belajar dengan sahabatnya bukan dengan instrukturnya.


Sistem dan Pola Pembelajaran yang mengacu pada proses perkembangan kemampuan secara berkala, bukan pada ujian akhir.

Penilaian hasil sebuah pembelajaran adalah proses peningkatan dari waktu-kewaktu kemampuan siswa, mulai dari tidak bisa menjadi bisa dan mahir bukan hanya berbasiskan tes/ujian di akhir masa pembelajaran saja. Sistem ini disebut sebagai “Portfolio Management”

Sistem Pendidikan dan Pengajaran yang memberdayakan kemampuan uggul “unik” setiap anak. Tidak memberlakukan sistem ranking dan rata-rata kelas, akan melainkan menggunakan sistem yang mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan masing-masing individu dengan berfokus pada keunggulannya. Sehingga anak paham akan potensi keunggulan dirinya masing-masing.

Tidak menggunakan kelas sebagai satu-satunya tempat belajar.
Setiap tempat adalah tempat belajar yang baik dan sempurna bagi siswa, sementara kelas adalah hanya salah satunya.

Tidak menggunakan papan tulis dan buku sebagai satu-satunya media belajar.
Media belajar yang baik adalah dengan membuat alat pembelajaran sendiri dari lingkungannya dengan mengandalkan ide-ide kreatif dari guru dan siswa. Buku dan papan tulis hanyalah alat bantu untuk memvisualisasikan apa yang diinginkan oleh guru pada siswanya.

Materi yang seimbang antara akademik dan life skill.
Diluar sekolah anak akan menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan nyata bagi dirinya saat ini dan kelak setelah dewasa. Oleh karena itu pembelajaran kehidupan dan bagaimana untuk dapat hidup dimasyarakat jauh lebih utama untuk dikuasai oleh para siswa. Bukan hanya mengagung-agungkan nilai EBTA, Sumatif Tes atau IPK, yang nyata-nyata kontribusinya tidak besar bagi sukses kehidupan anak kelak.

Mau menerima masukkan dari luar untuk proses pengembangan sistem pembelajaran.
Jelas bahwa sekolah bukanlah institusi yang paling sempurna dalam mendidik dan mengembangkan kemampuan siswa, oleh karenanya sekolah sangat memerlukan berbagai masukan yang tepat dari berbagai pihak untuk dapat mendidik lebih baik.
Anak antusias, kreatif, kritis dan senang sekali bersekolah dan diajak bicara tentang sekolahnya. Ini merupakah alat ukur yang paling mudah bagi orang tua yang ingin mengetahui apakah sekolah yang dipilihnya cocok untuk anaknya.
Anak kita akan menjadi lebih baik dalam waktu 3 s/d 6 bulan.

Sistem pendidikan yang baik tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengembangkan anak didiknya, baik yang berhubungan dengan kemampuan krititis ataupun prilaku terpuji dari anak kita. Perubahan itu seharusnya akan mulai terlihat dan dirasakan oleh orang tua pada semester-semester awal dan terus berlangsung sepanjang periode pembelajaran.

Tanya jawab seputar sekolah:

Apakah sekolah semacam ini ada..? jawabanya ada, namun tidak banyak dan beberapa diantaranya sudah memuat poin di atas meskipun belum seluruhnya.

Dimana..? masih sangat sporadis dan biasanya bentuknya semacam sekolah alam. Diaerah mana saja..? Beberapa diantaranya Sekolah Dasar Insantama di Bogor, Sekolah TK Star Int'l & Insantama Bogor, Sekolah Dasar dan Menengah, Alam Ciganjur, Kandang Jurang Ciputat, Sekolah Semut-semut di Cimanggis, Sekolah Tunas Global di Depok, Sekolah Masterpiece di BSD, Sekolah SD Peradaban di Serang & Cilegon Banten dan Rumah Cendikia di Makassar, Al Mutahhary Bandung dll.

Mungkin masih banyak lagi di daerah lainnya dan biasanya sekolah ini tidak banyak berpromosi yang berlebih-lebihan atau di lebih-lebihkan, karena beritanya sudah menyebar dari orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya disana.

Jenjangnya bervariasi mulai TK, SD, SMP hingga SMA.

Semoga sekolah semacam ini akan semakin banyak tersebar diseluruh pelosok tanah air tercinta.
Sistem pendidikan yang baik tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mengembangkan anak didiknya, baik yang berhubungan dengan kemampuan krititis ataupun prilaku terpuji dari anak kita. Perubahan itu seharusnya akan mulai terlihat dan dirasakan oleh orang tua pada semester-semester awal dan terus berlangsung sepanjang periode pembelajaran.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+4+7

Copyright © 2010 YULHENDRAWAN · All Rights Reserved
Powered by DBS webmatic